Minggu, 20 Februari 2011

Sebuah Tinjauan Morfologis : Reduplikasi dalam Bahasa Indonesia


A.    Pendahuluan

1.      Latar Belakang Masalah
Pembahasan tentang segala hal yang berhubungan dengan kebahasaan terutama bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional di negara kita, telah dibahas dari saat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi. Banyak orang menyatakan bahwa bahasa Indonesia itu gampang-gampang sulit. Gampang, karena sering kita menggunakannya, tetapi sulit ketika berhubungan dengan cabang-cabang linguistik, EYD sampai dengan permasalahan sastranya.
Terkait dengan cabang linguistik dalam bahasa Indonesia, kita mengenal dari fonologi (linguistik yang lebih mengerucut pada bunyinya), semantic (linguistik yang lebih lekat dengan pemaknaannya), leksikologi (ilmu leksikon), sintaksis (tata susunan kata), dan morfologi (leksikologi yang mengkaji lebih dalam tentang bentuk kata dan pengaruh perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata).
Tidak seperti dalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia dikatakan lebih rumit[1] daripada bahasa internasional tersebut. Dalam bahasa Indonesia kita mengenal tentang kata ulang atau istilah kerennya reduplikasi. Hal ini tidak kita kenal dalam bahasa Inggris, tapi akan lebih dekat dengan bahasa Jawa yang juga mengenal tentang adanya proses morfologi ini. Jika dikaji lebih mendalam sangatlah unik memang. Tapi kita tidak akan banyak menkaji hubungan kata ulang dalam bahasa Inonesia dan bahasa Jawa, walau hal ini sangatlah berkaitan erat.

2.      Fokus Permasalahan
a.       Bagaimanakah kata ulang yang ada dalam bahasa Indonesia dilihat dari bentuknya?
b.      Bagaimanakah ciri makna kata ulang dalam bahsa Indonesia?
c.       Bagaimana proses morfologis kata ulang (khususnya yang berafiks) dalam bahasa Indonesia?
3.      Kajian Teori
Kata berulang / reduplikasi adalah kata jadian yang dibentuk dengan proses pengulangan atau kata yang dibentuk melalui proses pengulangan dengan bertumpukan pada bentuk dasar.

B.     Pembahasan

1.      Ciri Bentuk Kata Ulang dalam Bahasa Indonesia
Ada beberapa bentuk reduplikasi dalam bahasa Indonesia, antara lain :
ü  Perulangan seluruh / penuh
Bentuk perulangan ini terjadi bukan hanya pada bentuk dasar tunggal saja, tetapi juga dalam bentuk dasar kompleks. Seperti dengan penamaannya, perulangan ini sepenuhnya diulang.
Perulangan ini juga sering disebut dengan dwilingga,  yang dimaksudkan bahwa lingga adalah bentuk dasar dari kata.
Contohnya :
                        ~ Perulangan bentuk dasar tunggal :
¤        Gelas                        Þ gelas-gelas
¤        Selimut                     Þ selimut-selimut
~ Perulangan bentuk dasar kompleks :
¤        Pertanyaan               Þ pertanyaan-pertanyaan
¤        Pelajaran                   Þ pelajaran – pelajaran
¤        Mesin ketik              Þ mesin ketik – mesin ketik
¤        Objek Wisata           Þ objek wisata – objek wisata

ü  Perulangan sebagian / parsial
Berbeda dengan perulangan penuh, perulangan sebagian atau parsial ini hanya sebagian dari kata dasarnya saja yang diulang. Pengulangannyapun cukup unik, karena ada yang diulang bagian awalnya dan ada yang bagian akhirnya.
Perulangan parsial pada bagian awal kadang pula disebut dengan dwipurwa,  karena purwo dalam bahasa Jawa diartikan sebagai awal atau pertama. Jadi, dwipurwo adalah perulangan dua dari awalanya. Sedangkan perulangan pada bagian akhir disebut dengan dwiwasana.
Contohnya :
~ Perulangan parsial bagian awal :
¤        Tangga                     Þ tetangga
¤        Laki                          Þ lelaki
¤        Tapi                          Þ tetapi
¤        Tamu                        Þ tetamu
~ Perulangan parsial bagian akhir :
¤        Pertama                    Þ pertama-tama
¤        Segala                       Þ segala-gala
¤        Semua                      Þ semua-mua
¤        Terngiang                 Þ terngiang-ngiang

ü  Perulangan berafiks
Perulangan ini terjadi pada kata dasar yang mendapatkan imbuhan sebelum ataupun sesudah mendapatkan proses reduplikasi. Bahkan proses afiksasi dapat pula terjadi sebelum dan sesudah adanya reduplikasi dari kata dasarnya.
                        Contohnya :
                        ~ Reduplikasi berafiks (afiksasi, reduplikasi)
¤        Baca                         Þ membaca                Þ membaca-baca
¤        Teringat        Þ teringat                   Þ teringat-ingat         
                        ~ Reduplikasi berafiks (reduplikasi, afiksasi)
¤        Tinggi                       Þ tinggi-tinggi           Þ setinggi-tingginya
¤        Indah                        Þ indah-indah            Þ seindah-indahnya
¤        Pintar                        Þ pintar-pintar           Þ sepintar-pintarnya
ü  Perulangan dengan variasi fonem
Pada perulangan dengan variasi fonem ini terbagi lagi menjadi variasi fonem vokal dan variasi konsonan.
Variasi fonem vokal jika dalam bahasa Jawa disebut dengan dwilingga salin swara.
                        Contohnya :
                        ~ Perulangan variasi fonem vokal :
¤                 Lika-liku
¤           Kasak-kusuk
¤           Bolak-balik
¤           Basa-basi
~ Perulangan variasi fonem konsonan :
¤           Ramah-tamah
¤           Sayur-mayur
¤           Lauk-pauk
¤           Hingar – bingar


2.      Ciri Makna Kata Ulang dalam Bahasa Indonesia

3.   Proses Morfologis Kata Ulang Berafiks dalam Bahasa Indonesia

C.    Simpulan


D.    Daftar Pustaka

Santoso, Joko. 2004. Buku Pegangan Kuliah : Morfologi Bahasa Indonesia.Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta.
Santoso, Joko. 2005. Hand out : Pekuliahan Morfologi Bahasa Indonesia.Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta.
Sudaryanto. 1991. Tata Bahasa Baku Bahasa Jawa. Yogyakarta : Duta Wacana University Press.
Tim Bahasa Indonesia. Yogyakarta : Universitas Gajah Mada.
Wiharjo, Wiwied. 2003. Lembar Kerja Siswa Melati: Bahasa Indonesia. Jakarta : Pustaka Aditama.


[1] Lihat Santoso, Joko. 2004. Buku Pegangan Kuliah : Morfologi Bahasa Indonesia.Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta, hlm.1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan berkomentar atau memberi masukan, di sini!