Minggu, 20 Februari 2011

Kajian Kontemporer Cerpen “Ngung Cak” Karya Danarto Berdasarkan Elemen Fiksinya

I.             Pendahuluan

A. Latar Belakang
Perkembangan dunia sastra dari masa ke masa mengalami perubahan yang cukup signifikan, walaupun bila dibandingkan dengan sastra yang ada di dunia, Indonesia masih jauh perbedaannya. Namun, Danarto sebagai sastrawan sekaligus seniman telah membuktikan bahwa Indonesia tidak kalah dengan sastrawan non-Indonesia.”Bahkan, Rafel juga menyatakan bahwa Danarto unik dan menonjol, bukan saja di dalam kesusastraan Indonesia, melainkan juga dalam sastra modern dunia” (Prihatmi, 1993:29).
Kemenonjolan Danarto dalam karya-karya sastranya ditunjukkan dengan adanya kekontemporerannya. Namun, perlu dikaji juga seberapa besar sisi kontemporer annya tersebut.
Maka dari itu, penulis mencoba meraba-raba sisi-sisi kekontemporeran salah satu karya Danarto melalui elemen fiksi yang ada. Melihat dari literatur pendukung yang penulis miliki, hal tersebut belum dikaji secara mendalam.

B.  Tujuan
Secara sederhana, penulis ingin lebih mendalami suatu karya kontemporer, terutama karya Danarto. Selain itu, penulis ingin mendalami elemen fiksi secara lebih intens.

C. Landasan Teori
Secara ringkas, elemen fiksi dibagi ke dalam 3 buah elemen besar. Ketiga elemen besar itu adalah fakta cerita, sarana cerita dan tema. Dari ketiga eleman tersebut masih dapat dijabarkan lagi menjadi elemen-elemen lain yang saling mendukung kebulatan suatu fiksi. Sekecil apapun elemen tersebut tidak dapat dinafikkan keeksistensiannya.
Elemen fiksi secara bagan dapat digambarkan sebagai berikut :

Elemen Fiksi

 



                                                                                              


Fakta Cerita  :
Fakta cerita merupakan hal-hal yang diceritakan di dalam sebuah karya fiksi yang meliputi tokoh, plot dan latar.  Ketiga elemen tersebut dirangkai dalam susunan peristiwa dan saling mempengaruhi dan menggantungkan satu dengan yang lain.

Sarana Cerita:
Sarana cerita meliputi hal-hal yang dimanfaatkan pengarang dalam memilih dan menata detail-detail cerita sehingga tercipta pola yang bermakna. Sarana cerita ini meliputi judul, sudut pandang dan gaya.

Tema              :
Tema adalah hal yang melingkupi dari sebuah cerita dari awal hingga bagian akhirnya.

Sebuah sastra dikatakan mutakhir/kontemporer apabila ia telah menyimpang dari aturan baku atau terlepas dari segala bentuk konvensi yang ada.

II.          Isi

Berdasarkan elemen fiksinya:
1.      Fakta Cerita
Tokoh       :
Pada cerpen ini tokoh yang dihadirkan oleh pengarang secara fisiologis tidak ada sebuah kejanggalan, walaupun tidak juga dideskripsikan secara jelas bagaimana penampakan fisiknya. Maksud dari kejanggalan di sini, misalnya tentang tokoh yang tidak berdarah dan berdaging. Jadi, secara logika tokoh-tokoh yang ditampilkan masih dalam taraf normal.
Secara kongkret, tokoh jelas yang terlibat langsung[1] antara lain :
1.      Aku                                      tokoh utama
2.      Otto Weizenbergen
3.      Ibu Pemangku                      tokoh tambahan
4.      Badung
Sedangkan tokoh pendamping[2] antara lain Mas Totok, George Benson, dll. Tokoh-tokoh ini muncul hanya sebagai pelengkap cerita, karena cerpen ini mempunyai sebuah cerita utama dan beberapa cerita sampingan. Hal inilah yang kemudian memunculkan kemutakhiran, selain adanya tokoh-tokoh yang ‘ambigu’ posisinya.
Dalam pemberian nama, secara otomatis nama tersebut mempunyai beban karakter  (secara psikologis) atau perwatakan tertentu, dan beban sosiologis walaupun hal tersebut kembali tergantung dari persepsi masing-masing pribadi pembaca. Seperti Nurgiyantoro (2005:165)[3] “Penyebutan nama tokoh tertentu , tak jarang, langsung mengisyaratkan kepada kita perwatakan yang dimilikinmya”. Namun, secara linier,  ‘tokoh jelas yang terlibat langsung’ dapat dipersepsikan  -persepsi yang mungkin timbul karena nama- sebagai berikut :
No.
Nama
Psikologis
Sosiologis
1.
Aku
Tidak langsung tergambarkan karena masih tergantung dari konteks yang ditimbulkan dalam cerita, terutama dari dialog yang kemudian muncul.
Idem.
2.
Otto Weizenbergen
Ia sebagai orang yang bukan berasal dari Indonesia. Jika dari kata “Otto” asosiasinya kepada orang yang ber-ras Mongoloid. Sedangkan kata “Weizenbergen”  biasanya diasosiasikan kepada orang yang berdarah Eropa. Intinya, ia teridentifikasi sebagai orang luar Indonesia.
Sebagai warga asing, dampak terhadap status sosialnya cukup ‘dihormati’ oleh masyarakat lokal.
3.
Ibu Pemangku
Ibu yang dituakan, atau dihormati dalam lingkungan tertentu. Mungkin semacam pemangku adat, dsb. Jadi, menimbulkan persepsi bahwa ia merupakan ibu yang bijaksana, tegas dan baik hatinya.
Jelas, secara kultur masyarakat biasanya ia sangat dihormati.
4.
Badung
Tergambarkan sebagai orang yang kurang sopan. Tetapi setelah melihat konteks cerita, ia tergambarkan sebagai orang yang ‘manut’  dan tidak ‘neko-neko’.
Biasa saja, normalnya masyarakat.

Ø  Kemutakhiran  tergambar cukup jelas pada sisi tokoh-tokoh pendamping yang muncul secara acak dan tidak jelas pada cerita pendamping dari cerita utama yang ada. Apabila bisa dimasukkan, pesawat pengurai dapat pula menjadi sebuah tokoh, karena ia adalah subjek yang mengetengahkan peristiwa yang ada dalam cerpen.

Plot                 :          
Plot yang diciptakan berupa plot yang progresif, dengan pertautan secara temporal. Karena diceritakan  dari awal pesawat pengurai itu mulai berdengung, hingga antiklimaks pada bentuk suara koor cak yang berbentuk lingkaran.
Kekontemporeran terlihat pada bentuk dialog tidak bersambungan dan membentuk suatu zig-zag yang seakan-akan menyatakan sebuah ‘kemelayangan’. Dialog yang ada juga merupakan percakapan yang tidak dipancangkan pada satu tempat dan tidak diikat oleh hukum sebab akibat. 
   Setelah segala peristiwa disatukan dalam ukuran mikro (di tempat itu berlangsung), maka dilanjutkan dalam ukuran makro. Peristiwa masa lalu dan masa kini, peristiwa di tempat upacara dan peristiwa yang sangat jauh dari tempat itu. Bagaimana semua itu dapat disatukan ternyata tidak lepas dari kesatuan semangat modern dan semangat kuno. Dengan setiap kali mengarahkan pesawat pada bongkahan-bongkahan bara upacara maka dapat disuguhkan masa lalu baik dalam maupun luar negeri. Demikian pula peristiwa-peristiwa yang saat itu sedang terjadi. Bukan saja di tempat upacara, melainkan juga tempat-tempat luar negeri. Secara cepat terpampang berganti-ganti peristiwa.

Latar                 :       
Latar tempat utamanya berada di Bali, namun karena pesawat pengurai maka, tergambar kekontemporeran latar tempat berupa penggambaran tempat penceritaan yang berubah-ubah tempat. Mulai dari Bali, Tokyo, New York, Jakarta, kereta api bawah tanah dan plaza Palais de Chaillot di Paris.
   Sedangkan latar waktunya berada dalam suatu waktu yang tidak disebutkan secara jelas, hanya seperti kilasan malam saat adanya saat ada upacara adat di Bali. Kemudian, diceritakan pula peristiwa pagi hari yang pada saat itu Otto menyerahkan sebuah koran pagi.
Sisi kontemporer yang ada adalah adanya penggambaran peristiwa masa lalu dan masa kini karena kerja dari pesawat pengurai.   
Latar sosial  berada dalam suatu dunia modern karena adanya pesawat pengurai yang canggih, namun adat masih diagungkan.

2.      Sarana Cerita
Judul              :          
Dari segi judul, cerpen ini sudah sangat terlihat kekontemporerannya. Karena menggunakan paranada dan titinada. Pemakaian paranada dan titinada ini berfungsi untuk menunjukkan naik turunnya suara dengan pesawat dan suara penari kecak. Tidak dipasangnya kunci pada paranada tersebut menunjukkan bahwa nada dasar untuk tinggi rendahnya suara tidak dipastikan, sebab yang dilukiskan bukan bukan lagu, melainkan dengung pesawat pengurai SMPVTU dan suara penari kecak. 
   Ada sedikit keanehan ketika ada titinada yang bertumpuk dalam satu garis horisontal. Hal ini penulis fikir dimaksudkan untuk menunjukkan pandangan bahwa bunyi itu tinggi rendah sama saja. Seperti ‘kebenaran mengalir’ bahwa semua sebenarnya sama saja karena segalanya sebenarnya satu.

Sudut Pandang:
Sudut pandang frist person, periperal. Aku sertaan.

Gaya penceritaan:
Menurut Danarto, kata dalam tataran biasa, kurang dapat mewakili apa yang ingin danarto sampaikan kepada para pembaca. Maka danarto menyatukan antara gambar atau lukisan, paranada dan titinada, tipografi dan verbal. Menurut  danarto, kata harus dipulihakan (dikembalikan seperti semula) untuk mengikuti suara dan juga ide (Prihatmi, 1993:97). Hal ini dimaksudkan agar kata dan huruf yang digunakan dalam puisi konkrit dapat dimanfaatkan dengan baik dari segi penglihatan, pendengaran maupun geraknya. Sehingga, sebuah kata bukan hanya menyimbolkan sesuatu pengertian, tetapi mempunyai wujud yang dapat dilihat, mempunyai suara yang dapat didengar dan dapat bergerak.
Maka Danarto menggunakan gaya penceritaan yang memunculkan tipografi. Hal ini sengaja digunakan untuk mencapai aspek visual. Materi yang digunakan dalam tipografi ini sebagian besar merupakan tiruan bunyi berupa Cak, Ngung, klst dan klui. Seperti penggunaan  gaya penceritaan kata ngung yang cukup ‘aneh’ pada halaman 35-36 dan 50, dimaksudkan untuk menunjukkan naik turunya suara.  Begitu pula untuk bunyi cak pada halaman 49-50, 60 dan 66  yang menunjukkan arah lari dari dua orang penari. Untuk suara klui pada halaman 41-42 dan 45 menunjukkan suara perekam. Sedangkan tipografi  cak  yang bersambung ngung, titik-titik, klst, dan lain-lain pada halaman 40 – 43 secara visual akan menuntun kepada bentuk layang-layang berekor. Secara vokal mengeluarkan bunyi cak, ngung, klst,  dan secara verbal bentuk dan bunyi tersebut menyarankan kepada gerak melayang-layang dari layang-layang berekor.
Tipografi cak yang berupa segitiga bersusun pada halaman 60 menunjukkan kipas bukan hanya satu tetapi empat buah yang artinya mengalir semakin cepat sehingga menjadi tipografi melingkar.
Pemakaian paranada dan titinada berfungsi untuk menunjukkan naik turunnya suara dengung pesawat. Kadang-kadang hanya titinadanya saja yang dilukiskan. Walaupun ada hanya sepotong saja. Hal ini karena hanyasekedar menunjukkan tempat garis-garis nada.
Gambar dan lukisan merupakan bagian integral dari teks, walau ada yang hanya ilustrasi saja. Gambar dan lukisan ini merupakan pengganti kalimat yang seharusnya merupakan jasad suara.
3.      Tema              :
Kehebatan sebuah pesawat pengurai yang dapat menyatukan segala ruang dan waktu.


III.       Penutup

Kesimpulan

               Fiksi Karya danarto ini merupakan fiksi nonrealis, walaupun dihadirkan bersama-sama dengan dunia yang di dalamnya ukuran logika dan indera masih berlaku. Ditinjau dari elemen fiksinya, hampir semua subelemen fiksinya bernuansa kontemporer.


Daftar Pustaka
Danarto. 1982. Adam Ma’rifat. Jakarta: Balai Pustaka.
Mangunwijaya, Y.B. 1988. Sastra dan Religiositas. Yogyakarta : Kanisius.
Prihatmi, Sri Rahayu. 1993. Fantasi dalam Kedua Kumpulan Cerpen Danarto : Dialog Antara Dunia Nyata dan Tidak Nyata. Jakarta: Balai Pustaka.
Sayuti, Suminto. A. 1995. Mengenal Prosa Fiksi. Yogyakarta :


[1] Tokoh yang dalam cerpen tersebut terlibat dalam dialog dalam cerita utamanya.
[2] Tokoh yang terlibat dalam cerpen, tetapi tidak terlibat langsung dalam cerita utama.
[3] Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi.Yogyakarta: Gajah mada University Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan berkomentar atau memberi masukan, di sini!